Minna-san, o genki desu ka? (Apa kabar?)
Gimana dengan huruf-huruf Katakana dan Hiragananya? Udah ada di luar kepala?
Gut..gut..gut..
OK, tsugi no ka ni tsuzukimashou!(Mari lanjutkan ke bab selanjutnya!)
Disini, Minna-san bakal belajar mengenai aturan-aturan dasar agar kita bisa menggunakan bahasa Jepang secara baik dan benar, baik dalam percakapan, maupun dalam tulisan.
OK, perhatiin baik-baik ya. Dan ini harus diingat sampe kapan pun juga.
1. Titik, Koma, Kurung,
a. Dalam bahasa Jepang, titik (.) ditulis dengan bentuk
Gimana dengan huruf-huruf Katakana dan Hiragananya? Udah ada di luar kepala?
Gut..gut..gut..
OK, tsugi no ka ni tsuzukimashou!(Mari lanjutkan ke bab selanjutnya!)
Disini, Minna-san bakal belajar mengenai aturan-aturan dasar agar kita bisa menggunakan bahasa Jepang secara baik dan benar, baik dalam percakapan, maupun dalam tulisan.
OK, perhatiin baik-baik ya. Dan ini harus diingat sampe kapan pun juga.
1. Titik, Koma, Kurung,
a. Dalam bahasa Jepang, titik (.) ditulis dengan bentuk

Contoh :

b. Sedangkan koma (,) ditulis dengan

Contoh :

c. Untuk tanda kurung ( ) ditulis dengan

Contoh :

____________________________________________________________________
2. Pola Kalimat
Contoh :

Penting : Walaupun diartikan ke dalam bahasa Indonesianya acak-acakan, tapi tetap saja arti keseluruhannya adalah “saya jam 10 membaca buku”.
____________________________________________________________________
3. Kalimat Tanya

Contoh :

____________________________________________________________________
4. pengucapan partikel
a. Dalam sebuah kalimat, pengucapan pada huruf “ha” sesudah subjek, diucapkan “wa”.

Contoh :

Penting : Ingat! Huruf “ha” diucapkan menjadi “wa” hanya jika huruf “ha” itu terletak sesudah subjek.
b. Pengucapan huruf “wo”sesudah objek, diucapkan “o”.

Contoh :

Penting : Ingat! Huruf “wo” diucapkan menjadi “o” hanya jika huruf “wo” itu terletak sesudah objek.
c. Pengucapan huruf “he”diucapkan “e” bila mengandung arti tujuan (ke).

Contoh :

Penting : Ingat! Huruf “he” diucapkan menjadi “e” bila mengandung makna tujuan. Dalam contoh kalimat diatas, artinya adalah “saya akan pergi ke Surabaya”. Jadi dengan kata lain, “he” yang dibaca “e” itu arti dalam bahasa Indonesianya adalah “ke”.
d. Pengucapan huruf “n”jika berada diakhir kata, diucapkan cenderung berbunyi “ng”.

Contoh :

Penting : Huruf “n” diucapkan “ng” hanya jika berada di akhir kata. Huruf “n” bisa berubah bunyi menjadi “ng”, “m”, dan ”n”. Akan dibahas lebih jelas di materi tersendiri.
____________________________________________________________________
5. Pengucapan Akhir Kalimat
Dalam bahasa Jepang, akhir kalimat yang berbunyi “su” diucapkan “s” saja.
Contoh :

Penting : Huruf “su” diucapkan menjadi “s” hanya jika berada di akhir kalimat.
____________________________________________________________________
6. Bunyi Vokal Panjang dan Konsonan Rangkap
Dalam bahasa Jepang, mengenal bunyi vokal panjang dan konsonan rangkap. Dan bunyi ini berpengaruh sekali terhadap arti. Panjang pendeknya bunyi vokal, atau rangkap tidaknya bunyi konsonan, dapat merubah arti suatu kata tersebut.
Contoh :
- Vokal panjang : Yuuki,artinya keberanian. Sedangkan yuki artinya salju
- Konsonan rangkap : Kitte, artinya potonglah. Sedangkan kite artinya datanglah.
a. Untuk vokal panjang, aturan pada huruf Katakana dengan Hiragana berbeda.
Untuk Katakana, memanjangkan vokal ditulis menggunakan bentuk strip.
Contoh :

Penting : Untuk Hiragana bervokal panjang “o”, huruf Hiragana yang bisa digunakan ada 2, yaitu huruf Hiragana “o” dan “u”, sebagaimana contoh “otoosang” dan “byooing”. Walaupun memakai huruf “u”, tetap saja dibacanya sebagai “o”.
b. Untuk konsonan rangkap, baik untuk Katakana maupun Hiragana ditulis dengan huruf “tsu” kecil, sesuai dengan jenisnya, apakah Katakana atau Hiragana.
Contoh :

1 comment:
duh... pusing juga aturan dasarnya, tapi emang detail sih...
Post a Comment